rumah seni cemeti

Kurator: Aminudin Th. Siregar
Asisten Kurator: Albert Yonathan Setyawan
Melihat perkembangan seni rupa sekarang ditinjau dari fenomena agresifitas pasar; dominasi seni lukis; pudarnya semangat inovasi, penemuan, eksplorasi, eksperimentasi, baik secara estetik maupun media dikalangan seniman muda, alih-alih tetap ada sejumlah seniman muda yang keras kepala melakukan orientasi yang berbeda dan menarik. Mereka adalah seniman yang masih berkutat pada potensi-potensi atau kemungkinan-kemungkinan `bahasa baru` di dalam perkembangan seni rupa Indonesia.
Dari sudut keprofesian, alih-alih juga bisa bermakna suatu `peralihan` antar disiplin atau konvensi: desainer jadi seniman; pematung jadi pelukis; pelukis jadi performance artist, dan sebagainya.
Dari sudut jaman, alih-alih juga bisa berarti jeda, pause atau `sementara itu: meanwhile`, suatu cabang, orientasi semangat yang berbeda dari arus utama yang sedang dominan.
Suatu praktek seni yang menunjukan sebuah semangat untuk merambah wilayah-wilayah yang baru, mencari kemungkinan- kemungkinan bahasa yang baru.
Dalam pencarian ini muncul peleburan-peleburan batasan wilayah praktek seni yang memunculkan suatu bahasa visual yang unik. Salah satu yang paling jelas terlihat adalah wacana desain dan seni. Selama ini di Indonesia kedua wacana ini ada dalam sebuah kategorisasi yang cukup kaku. Desain identik dengan persoalan benda-benda funsional yang dibuat dengan pendekatan untuk memecahkan sebuah masalah, dimana tidak ada content personal didalamnya. Sedangkan praktek seni selalu dibedakan karena content nya yang personal atau memuat sebuah pernyataan individual tentang persoalan sekitar. Desain dalam konsep seni yang selama ini kita kenal selalu menduduki posisi kedua setelah seni karena praktek nya yang dekat dengan industri membuatnya kekurangan muatan personal pembuatnya karena sifatnya yang mass production.
Dalam prakteknya beberapa tahun terakhir terutama di eropa, banyak desainer yang mulai keluar dari konvensi, dengan membuat sebuah produk yang lebih menitikberatkan pada pernyataan atau ekspresi personal. Yang pada akhir nya menimbulkan perdebatan, Karena mereka kemudian masuk dalam wilayah seni, khususnya seni rupa kontemporer. Dengan perbendaharaan bahasa para desainer ini mereka kemudian membuat sebuah bentuk seni yang agak sulit untuk dikategorikan dalam konvensi yang sudah mapan baik dalam wacana seni maupun desain itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan muncul istilah object dalam seni rupa kontenporer. Yaitu untuk mengenali bentuk-bentuk seni yang sudah tidak dapat lagi dikategorikan dalam konvensi seni. Sebuah bahasa yang baru yang memperlihatkan peleburan dua wilayah yang berbeda. Dalam praktek ini para perupa banyak melakukan usaha eksploratif dengan meminjam ikon-ikon atau idiom dala desain tetapi dengan pendekatan yang ekspresif. Sehingga objek-objek yang hadir sering kali mengingatkan kita pada benda fungsi, tetapi fungsi nya sudah hilang karena yang muncul sekarang adalah sebuah pernyataan seni yang personal.
Pameran ini menampilkan karya dari tiga perupa, yang selama dua tahun terakhir secara intens mengolah bahasa-bahasa visual yang unik dalam karya mereka yang memperlihatkan peleburan-peleburan tersebut.
Wiyoga Muhardanto. Proses kreasinya berangkat dari kritik terhadap budaya konsumerisme, yoga meminjam ikon-ikon budaya popular dalam karyanya dan mendekonstruksinya dengan melakukan sebuah juxtaposisi tanda.
Yuki Agriardi. Proses kreasi nya dimulai dari keasikan mengolah objek-objek yang memiliki nilai fungsi (furniture), tetapi berbeda dengan objek fungsional pada umumnya, yuki memberi tempat bagi imajinasi personalnya dalam objek-objek tersebut. Dia mencoba menangkap kedekatan sebuah objek dengan manusia dapat mengubah persepsi terhadap objek tersebut.
Budi Adi Nugroho. ‘You see it, you don’t’ demikian kalimat yang dipilih budi untuk menjelaskan tentang karyanya. Budi memulai proses kreasinya dari pertanyaan tentang realitas sebuah objek atau material. Dalam suatu masyarakat budaya material, dimana penguasaan materi menjadi acuan utama dalam hidup kebanyakan orang, apa yang terlihat atau oleh mata tidak selalu seperti itulah adanya, penampilan yang menipu dapat membawa kita jauh dari makna yang sesungguhnya.
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home