Sertifikasi Guru
Di sebuah sekolah di dekat desaku, guru yang lulus sertifikasi angkatan pertama mulai bertingkah. Mereka meminta kepala sekolah memberikan tugas mengajar 24 jam supaya mendapatkan tambahan tunjangan. Memangnya sekolah itu milik moyangnya? Padahal dalam keseharian guru itu kinerjanya kurang. Apalagi sering bolos mengajar.
Bagaimana nih para assesor? Kok kerjanya asal-asalan. Sertifikasi kok cuma perlombaan mengumpulkan sertifikat. Apakah ini tidak menyimpang dari tujuan semula? Sebaiknya sertifikasi angkatan pertama dibatalkan, karena tidak sepadan dengan pendidikan profesi. Bukankah sertifikasi dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan untuk bagi-bagi uang? Silahkan para assesor melakukan penilaian dan verifikasi di lapangan, tidak hanya duduk-duduk di belakang meja sambil jual tanda tangan. Aku tidak yakin dengan profesionalisme guru yang sekarang lulus sertifikasi. Kebetulan yang aku hadapi adalah oknum-oknum guru materialis yang beruntung karena lulus sertifikasi. Berkas-berkas portofolio pun hasil fotokopi sana-sini. Kerjanya belum betul sudah minta tambahan tunjangan. Apa tidak memalukan Korp Guru Indonesia?
Marilah bapak-ibu guru yang masih setia sebagai pendidik sejati, jangan anda mengejar bayang-bayang. Perbaiki kinerja dan profesionalisme masing-masing. Jangan berkecil hati, biarpun tidak lulus sertifikasi. Waktu yang akan bicara, masih banyak tanggungjawab anda sebagai pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jangan kita terjebak oleh iming-iming tambahan tunjangan.
Menurut teori belajar, model belajar yang tingkatannya terendah adalah model belajar konditioning, yaitu model belajar yang memerlukan stimulus atau iming-iming. Model belajar ini biasanya diberlakukan pada hewan, seperti lumba-lumba, kuda, anjing dan lain sebagainya. Derajat anda bukanlah itu. Mari tetap semangat meningkatkan mutu pendidikan. Didik anak-anak kita dengan benar! Hidup guru!
Mazdawan
Jalan Parangtritis Km 11, Jogjakarta (fer)
Bagaimana nih para assesor? Kok kerjanya asal-asalan. Sertifikasi kok cuma perlombaan mengumpulkan sertifikat. Apakah ini tidak menyimpang dari tujuan semula? Sebaiknya sertifikasi angkatan pertama dibatalkan, karena tidak sepadan dengan pendidikan profesi. Bukankah sertifikasi dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan untuk bagi-bagi uang? Silahkan para assesor melakukan penilaian dan verifikasi di lapangan, tidak hanya duduk-duduk di belakang meja sambil jual tanda tangan. Aku tidak yakin dengan profesionalisme guru yang sekarang lulus sertifikasi. Kebetulan yang aku hadapi adalah oknum-oknum guru materialis yang beruntung karena lulus sertifikasi. Berkas-berkas portofolio pun hasil fotokopi sana-sini. Kerjanya belum betul sudah minta tambahan tunjangan. Apa tidak memalukan Korp Guru Indonesia?
Marilah bapak-ibu guru yang masih setia sebagai pendidik sejati, jangan anda mengejar bayang-bayang. Perbaiki kinerja dan profesionalisme masing-masing. Jangan berkecil hati, biarpun tidak lulus sertifikasi. Waktu yang akan bicara, masih banyak tanggungjawab anda sebagai pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jangan kita terjebak oleh iming-iming tambahan tunjangan.
Menurut teori belajar, model belajar yang tingkatannya terendah adalah model belajar konditioning, yaitu model belajar yang memerlukan stimulus atau iming-iming. Model belajar ini biasanya diberlakukan pada hewan, seperti lumba-lumba, kuda, anjing dan lain sebagainya. Derajat anda bukanlah itu. Mari tetap semangat meningkatkan mutu pendidikan. Didik anak-anak kita dengan benar! Hidup guru!
Mazdawan
Jalan Parangtritis Km 11, Jogjakarta (fer)
0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home